. post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

We Write our FICTION

kita bisa menjadi Aktor,sutradara,dan produser dalam cerita kita sendiri ^.^

Background

B A C K G R O U N D

Pages

Part 1

    Sejak 2 tahun lalu, aku memutuskan untuk berhenti memainkan semua game virtual.
Bukan berarti aku membencinya, hanya saja, aku ingin melupakan beberpa hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Namaku Kotonoha Taito, dan aku adalah salah satu Survivor dari game kematian Sword Art Online.



Pagi hari, menggunakan tanganku aku menghalangi cahaya dari jendela yang masuk ke mataku, berjalan melewati lorong panjang aku memasuki sebuah ruang kelas di ujung koridor.

"......."

    Seperti yang sudah aku duga hanya ada keheningan di kelas ini, mereka hanya diam memandangku memasuki kelas. dan ketika aku memasuki kelas siswa-siswa di kelas tersbut menjauh ketika aku melewati mereka.

"......."

    Menghiraukan mereka aku berjalan menuju bangku'ku di pojok ruangan, duduk disana hanya angin yang berhembus pelan dari jendela di sampingku yang menyambutku. Ini menyebalkan, setelah mengalami rehabilitasi jangka lama dan penyesuaian kelas pendidikan dalam waktu 2 tahun orang-orang di sekitarku tetap menganggapku seperti orang aneh. Aku tidak menyalahkan mereka karena mereka memperlakukanku seperti itu, aku tahu jika di mata mereka aku adalah salah satu dari orang-orang yang menghabiskan waktu 2 tahun untuk saling membunuh di game itu. Mungkin bagi mereka keberadaanku seperti pembunuh berbahaya yang menyusup ke kelas ini.

    Meski begitu aku tidak bisa menyangkal apa yang mereka katakan. mungkin kata-kata seperti menghabiskan 2 tahun untuk saling membunuh memang terlalu berlebihan, tapi bukan berarti semua itu salah. Dalam ingatanku aku mengingat ketika anggota baris depan memutuskan untuk menangkap semua anggota Red Guild Laughing Coffin. harusnya misi itu hanya akan berakhir dengan penyergapan. Tapi anggota party yang saat itu melakukan penyergapan justru jatuh dalam perangkap mereka, hingga akhirnya pertempuran terjadi di tempat gelap tersebut. Semua anggota party termasuk diriku terus bertarung sambil berusaha untuk tidak membunuh mereka.

   Dan pada akhirnya, keadaan  mencekam itu memaksa kami untuk membunuh. Beberapa dari kami tebunuh dalam misi itu, di lain pihak anggota Laughing Coffin juga terbunuh meski ratio kematian kami lebih rendah, tapi itu bukanlah hal yang bisa di banggakan. Dan aku, aku juga salah seorang yang sudah menghilangkan nyawa orang lain dalam misi itu. Pedangku sudah menebas 5 orang dari mereka. Game itu,tidak dunia itu telah memberikan luka yang tidak akan pernah sembuh dalam ingatan semua orang yang pernah memasukinya, tapi dunia itu juga memberikan kenangan indah yang tidak bisa di gantikan pada beberapa orang yang mendapatkanya.

   Ketika aku memikirkan hal itu pintu ruang kelas tiba-tiba terbuka dan seseorang memasuki kelas. Rambut hitam panjang dengan wajah seperti boneka bisque, ketika dia memasuki kelas ekspresi dari semua siswa di kelas ini berubah menjadi cerah. Well dia adalah salah satu dari dua siswi tercantik yang mendapat gelar "Dewi", Mariya Momoka.

"Ah ..Momoka selamat pagi.."

Kemudian dari belakangnya gadis lain yang tidak kalah manis dengan Mariya muncul. Itu adalah gadis dengan gelar "Dewi" yang lain, Tokoha Sizuku.

"Fuee.. Sizuku-chan..."


   Mariya mengeluarkan suara aneh karena terkejut dengan kedatangan Tokoha, mendengar suara itu Siswa di kelas ini mulai membuat senyum aneh dengan pipi memerah. Kupikir aku adalah satu-satunya orang yang bersikap normal disini, tapi kenapa aku merasa menjadi orang aneh?.

Melihat kedua Dewi berkumpul di satu tempat seperti ini, mungkin aura di sini terlalu berat untuk siswa di sini.Baiklah abaikan mereka, memalingkan wajahku aku melihat ke luar jendela, namun ketika aku melakukanya ..

"Um?.. Kotonoha-kun selamat pagi?"

Mariya Momoka menyapaku ...

"...."

melambaikan tanganya dia mendatangiku. Ah, di mulai...., tatapan siswa di kelas ini menjadi dingin, dan arah tatapan itu tertuju padaku,

Seperti itu, hal ini sudah terjadi sejak aku berada di tahun pertama, satu-satunya orang yang mau mendekatiku hanyalah orang ini, Mariya momoka, dan orang-orang di sekitarku selalu saja menunjukan tatapan penuh hawa membunuh setiap kali Mariya bicara denganku

Andai saja dia hanyalah siswa biasa tanpa kelebihan apapun, andai saja dia siswa normal yang tidak menarik perhatian, mungkin akan menyenangkan bicara denganya.

"Umm..pagi~"

Aku membalasnya sambil mengarahkan pandanganku ke jendela,

"Mou...itu tidak sopan.. setidaknya katakan itu sambil menatap wajah orang yang berbicara padamu"

Duduk di bangku depanku Mariya menatapku tajam..setidaknya bacalah suasana sedikit! apa kau tidak merasakan tatapan penuh hawa membunuh dari orang- orang ini...baiklah apa yang sebaiknya aku katakan padanya sekarang..?

Dan saat aku memikirkan itu,  pintu kelas terbuka kembali dan dari sana seseorang memasuki kelas , itu adalah Yukihira Ruri sensei, pada usianya yang sudah 24 tahun dia masih memiliki fitur wajah seperti anak-anak, dia selalu ingin menjadi guru yang di hormati oleh siswanya, tapi sayang kenyataan tidak berjalan seperti yang dia inginkan. Karena penampilanya yang terlihat lebih muda dari muridnya dia sering di perlakukan seperti seorang adik oleh murid-muridnya.

"Ah Ru-chan sudah datang..."

Seorang murid laki-laki mengatakan itu dan seketika itu pula wajah Yukihira sensei menjadi merah padam..

"Aoyama-kun!! pangil aku Yukihira sensei!!.."

mengatakan itu seperti orang dewasa, tapi di lihat dari manapun dia justru terlihat seperti seorang adik perempuan yang mengomel pada kakaknya.

"Nee.. Kotonoha-kun... hanya perasaanku atau Ru-chan tidak suka dengan cara kita memanggilnya?

Di depanku Mariya bertanya padaku.

"Aku tidak tahu.. jangan tanya aku.."

sambil terus memalingkan tatapanku aku menjawab dingin padanya.

"Nee.. kotonoha-kun Mungkinkah Ru-Chan sedang dalam  Rebelious Age?"

"Sudah ku bilang jangan tanya aku!!"

Dan satu hal lagi kau pikir berapa umur Yukihira Sensei!!?...Juga berhentilah bicara denganku seperti itu, kau membuatku dalam bahaya tahu!!.

Setelah jam pelajaran yang gaduh, akhirnya jam istirahat siang tiba, Tepat setelah bell berbunyi aku bergegas  keluar meninggalkan kelas, akumulasi kebencian di kelas itu benar-benar tidak normal, selain itu jika aku tidak segera keluar Mariya pasti akan menimbulkan masalah yang lebih besar padaku, apa aku terlalu berlebihan mengatakan hal itu?, aku tahu jika Mariya bermaksud baik, aku tahu jika dia hanya ingin membuatku merasa tidak di asingkan, karena dia memang orang baik, lagi pula gelar Dewi yang dia miliki bukan hanya di berikan karena kecantikanya saja, tapi karena dia adalah tipe orang yang tidak akan membeda-bedakan satu dengan yang lain.

Pada akhirnya aku menuju kantin sekolah, ramai seperti biasanya, dan satu-satunya hal menyebalkan di tempat ini adalah antrian rusuh dimana siswa-siswa saling berebut untuk membeli Roti yakisoba yang terkenal di sini,

"...."




Kemudian di belakang orang-orang itu seorang gadis tampak kebingungan, gadis yang cukup manis,  perpaduan rambut perak dan wajah khas Asia yang dia miliki membuatnya terlihat seperti boneka, dia mencoba menerobos, tapi terjatuh ketika terdorong kebelakang karena desakan kerumunan orang di depanya.

"Hey kau tidak apa apa?"

beruntung aku ada di belakangnya jadi aku bisa menangkapnya ketika dia jatuh...

"....Eh?!!"

Dan dia terkejut begitu melihatku di belakangnya, bukankah itu agak sedikit kasar jika kau memperlihatkan ekspresi seperti itu pada orang yang sudah menolongmu?aku ingin mengatakan itu tapi dia langsung menjauh dariku.

"........!"

".......?"

"........!"

"Umm, ingin beli roti yakisoba?"

"Eh?"

"Aku tanya ingin membeli roti Yakisoba?"

"Eh?, Ah! Unn!!"

Setelah melihatnya kebingungan untuk beberapa detik akhirnya dia menjawab pertanyaan ku dengan mengangguk. Um, sepertinya dia kerepotan dengan kerumunan ini, ~meninggalkan gadis itu dan aku mulai menerobos kerumunan manusia itu

setelah beberapa saat akhirnya aku mendapatkanya, Roti yakisoba!!. Meski hanya 2 buah~, orang-orang itu benar-benar menyebalkan!, kupikir hanya siswa laki-laki yang akan melakukan hal senekat itu, tapi aku bertemu siswa perempuan juga di dalam kerumunan itu dan aku tidak bisa melupakan ekspresi serigala lapar yang dia buat~, apa Roti yakisoba seenak itu?

"ini untukmu..."

menyerahkan satu dari roti yang aku dapat ke gadis gadis itu dan aku langsung pergi, jika aku berada terlalu lama bersama orang lain hanya akan menyusahkanku, tidak, lebih tepatnya mereka yang akan lebih kerepotan.

"Um.. ano!"

"...?"

Ketika aku pergi tiba-tiba dia memanggilku..Gadis itu, kenapa dia memasang wajah serius seperti itu?

"na, namakuYuzuki Akira."

Eh? tiba tiba dia memperkenalkan dirinya, menanggapinya aku hanya bisa tersenyum, lagi pula aku yakin dia sudah tahu siapa diriku jadi kupikir aku tidak perlu menanggapinya, lagi pula aku tidak mau menarik perhatian lebih dari ini, guh sebaiknya aku cepat pergi karena aku merasa suasana disini semakin memburuk sejak gadis itu memanggilku.Berlari menyusuri lorong aku kembali ke kelasku, dan saat aku sampai di kelas, Mariya sudah menunggu di sana dengan wajah cemberut, kenapa aku malah kembali ke kelas?!... Aaag aku lupa kalau ada orang yang lebih merepotkan di kelasku..

"Kotonoha-kun aku ingin bicara denganmu nanti sepulang sekolah"

Mariya mengatakan itu dengan memasang pandangan tajam padaku, Dia marah?

Setelah beberapa jam memeras otak dalam pelajaran akhirnya pelajaran untuk hari ini selesai, di akhiri dengan nasihat dari Yukihira sensei, akhirnya kelas berakir,

Ah akhirnya hari ini berakhir, aku harus cepat pulang dan menyiapkan makan malam, ah, aku lupa Mariya ingin membicarakan sesuatu denganku, mungkin sebaiknya aku abaikan itu dan segera pulang,ya itu yang terbaik.  tapi semua siswa tiba-tiba terdiam saat aku akan berdiri,  hal itu terjadi karena  pintu kelas tiba-tiba terbuka dan lima orang laki-laki masuk melalui pintu tersebut, masing-masing dari mereka membawa sebuah tongkat baseball yang mereka panggul di pundak mereka.

"Namaku Saezaki Sagara!!"

Di antara mereka seorang laki-laki maju kedepan dan memperkenalkan dirinya, umm, seorang ikemen, jika bukan karena penampilanya yang seperti brandalan mungkin dia akan populer di antara para gadis.

Berjalan pelan dia mengahampiri Mariya yang duduk di bangku depanku,

"Haa, aku menemukanmu tuan putriku~"

Dengan senyum mempesona yang bisa membuat gadis-gadis berteriak laki-laki itu membelai rambut Mariya... menjijikan... Tapi mariya menepisnya dengan kasar,

"maaf, jangan sentuh aku..."

memasang tatapan yang secara jelas mengatakan untuk menjauhinya Mariya mengatakan itu, semua orang di kelas ini hanya bisa terdiam, termasuk Yukihira Sensei yang gemetaran di kerumuni 2 orang laki-laki yang membawa tongkat baseball di pundaknya.

"Ah, gadis yang berani,, Hei To-kun jangan biarkan satu orang pun keluar dari kelas.."

Laki-laki itu memerintahkan salah satu temanya untuk menjaga pintu. Hal ini pasti akan memakan waktu lama...

"Baiklah nona muda, saatnya kau berikan harga dirimu padaku, kau tahu apa yang terjadi pada anak-anak ini jika kau mengatakan hal yang salahkan,"

"Sagara aku sudah bilang aku tidak menyukaimu.."

Mariya menjawab perkataan laki-laki itu dengan dingin, dan di saat yang sama suara keras dari kaca pecah terdengar..Sagara memukul jendela di samping Mariya dengan tongkat baseballnya.

Part 2

Mariya Momoka adalah gadis manis dengan sikap yang baik, Jika ada laki-laki yang mengatakan tidak suka padanya , berarti itu bohong. Banyak laki-laki di sekolahnya yang memiliki perasaan padanya, tapi mereka merasa tidak pantas di sejajarkan dengan Momoka, jadi mereka memilih untuk diam, namun diam-diam membentuk satuan khusus yang melindungi momoka dari balik layar. mungkin lebih tepatnya kumpulan cowok-cowok pencemburu yang tidak rela Momoka di dekati laki-laki lain.

Sebenarnya bukan hanya laki-laki di sekolahnya yang memiliki perasaan  pada Momoka, beberapa kali siswa laki-laki dari sekolah lain menyatakan perasaan mereka pada Momoka, tapi Momoka selalu menolaknya, dan salah satunya adalah Saezaki Sagara,

Tapi, spertinya Sagara bukanlah tipe orang yang akan menyerah begitu saja, itu di buktikan dengan dia datang ke kelas Momoka bersama gerombolanya. Bahkan Momoka tidak mengira jika Sagara akan melakukannya sampai sejauh ini.

Jika Momoka menolaknya, mungkin teman-teman sekelas momoka akan menjadi korban, itu bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi,

"Bagaimana?"

Sagara tersenyum sambil terus mendekatkan wajahnya pada Momoka, perlahan tanganya memegang rambutnya, kemudian turun hingga ke pipi dan terakhir dagunya. Momoka harus melakukan sesuatu, dia tidak bisa membiarkan teman sekelasnya terlibat dalam masalahnya.

di saat Momoka memikirkan hal itu, Tangan Sagara sudah mencapai lehernya dan terus bergerak turun, meraba dengan cara yang menjijikan. Tidak ada pilihan lain, Momoka tidak bisa membiarkan teman-temanya di ganggu oleh orang-orang ini, dimaan skenario terburuk adalah mereka sampai terluka.

"....."

Momoka sudah memutuskan, Momoka benar-benar tidak ingin hal seperti itu terjadi, tapi jika hal terburuk terjadi ,setidaknya dia tidak akan melibatkan teman sekelasnya, jadi Momoka memutuskan untuk menerima permintaan Sagara, tapi ketika dia akan bicara...

"Hueehh...lama sekali, kalian tahu ini giliranku menyiapkan makan malam. jadi cepatlah!"

Tepat ketika Momoka akan bicara di belakang Momoka seseorang mengatakan itu, dan dia adalah Tokonoha Taito, siswa laki-laki yang duduk di belakang Momoka , laki laki yang memiliki fitur wajah manis yang terkadang terlihat seperti perempuan jika di lihat dengan cermat, dia adalah satu dari 3 siswa paling di takuti di sekolah ini karena Taito adalah salah satu dari Survivor dari game kematian Sword Art Online. Setelah mengatakan itu Taito kemudian berdiri , menenteng tasnya dia berjalan mendekati Sagara, Sagara hanya bisa memasang wajah marah melihat Taito yang sudah mengganggu waktunya...

"Yo, aku sedang buru-buru.. jadi bisa menyingkir dari sana..."

Wajah semua siswa di kelas menjadi pucat mendengar Taito mengatakan itu dengan santai.

"Kau, kau berani juga..."

" Sejujurnya aku tidak mengerti bagian mana dari dirimu yang harus membuatku takut."

mendengar jawaban Taito , Sagara dengan cepat meluncurkan tinjunya ke wajah Taito,

"Mati kau..."

Seolah menerima apa yang terjadi, Tinju itu membentur wajah Taito tanpa di hindari, Tinju yang sangat keras, Taito bahkan sampai terdorong mundur beberapa langkah, meski tidak sampai membuatnya terjatuh.

"Kauu!!, Ku bunuh kau!!!"

Melihat Taito yang masih berdiri, Sagara yang terlihat tidak senang,memegang tongkat baseball di tangan kirinya dengan dua tangan dia mengayunkan tongkat itu pada Taito. Melihat itu, Momoka dan siswa perempuan lainya mulai menjerit,.namun apa yang terjadi adalah...

"....."

 Semua orang di ruangan itu terdiam, tanpa mengetahui apa yang terjadi mereka melihat Taito berhasil melewati dan menghindari Serangan Sagara dan melancarkan sebuah pukulan keperut Sagara.

Rasa sakit di perutnya membuat Sagara tidak bisa menahan kakinya untuk tetap berdiri, dan tentang Taito mungkin itu adalah hasil dari Rehabilitasinya sudah terlalu Overdosis...

Melihat Sagara tergeletak di lantai Taito mengambil tongkat baseball yang Sagara jatuhkan..

"Benda ini benar-benar ringan..."

Mengayunkan Tongkat baseball kekanan dan kekiri dengan tangan kananya Taito mengatakan itu, berat normal tongkat baseball memiliki rata-rata 1 kg, harusnya itu cukup berat jika di ayunkan dengan satu tangan, tapi untuk Taito berat seperti itu masih termasuk ringan jika di bandingkan dengan pedang yang dia gunakan di dunia itu..Pedang biru bermata satu, pedang unik yang dia dapat dari boss lantai 48 di dunia itu.. Extinction Of Al Barack


"Kau mengatakan sesuatu seperti "Mati, dan Bunuh.." , apa kau tahu apa arti dari kata itu, apa kau tahu seperti apa rasanya menghilangkan nyawa orang lain, apa kau mengerti rasa sakit ketika kau menyakiti orang lain?"

"Sialan! bunuh dia!!!"

Mengabaikan kata-kata Taito Sagara menyuruh gerombolanya menyerang, menyiapkan diri mereka ke empat orang itu menyerbu taito bersamaan, Taito yang ,melihat itu juga menyerbu ke arah mereka, Untuk menghindari ada orang lain yang terluka Taito menggunakan podium di depan kelas yang cukup luas.

"Guh, dia monster, "

"Ba, bagaimana dia bisa menghindari kita berempat!!"

Seperti menari, Taito menghindari, serangan tongkat dari ke empat orang itu, apa yang Taito lakukan terlalu kasar untuk di sebut Tehnik gerak, jadi hal itu tidak bisa di kategorikan sebagai tehnik, tapi apa yang dia lakukan  terlalu luar biasa untuk di katakan gerakan biasa, karena semua gerakan yang dia lakukan saat ini adalah hasil dari perjuangannya selama 2 tahun di dalam dunia itu, kastil melayang yang terdiri dari 100 lantai, Aincrad..

Gerakan yang di lakukan bukanlah gerakan yang hanya digunakan untuk menghindar, salah satu dari trik yang pernah dia gunakan dalam salah satu Dungeon di lantai 43,  terus bergerak untuk membuat musuh berada di tempat yang dia inginkan, kemudian diselesaikan dengan satu skill..

"...Hack and Slash!!"

Salah satu dari skill yang Taito sering gunakan saat di dalam dungeon, tehnik menyerang banyak musuh yang berdiri di depanya dengan gerakan Zik-zak..satu-satunya masalah dalam penggunaan skill ini adalah skill ini hanya bisa menyerang lurus kedepan dengan gerakan zig-zag, karena itu menempatkan musuh dalam posisi yang seharusnya sangatlah penting untuk syarat penggunaan skill , itulah alasan Taito bergerak dengan cara yang aneh saat menghindari serangan keempat orang itu.

Menyerang dengan gerakan yang selalu dia gunakan dalam dungeon sempit di dunia itu, Taito menyerbu ke empat orang itu, dengan gerakan Zig-Zag Taito memukul perut mereka satu persatu menggunakan tongkat baseball..

"GUh,"

:"Gwah"

"Geho.."

"Gah"

Satu-satu persatu dari mereka terjatuh sambil memegangi perut mereka dimana Taito hanya mengabaikan mereka dan fokus pada tongkat yang dia pegang.

"hmm, gerakanya Ok, tapi kekuatanya payah, sepertinya aku tidak bisa menggunakan Sword Skill tanpa bantuan system.."

Tanpa mempedulikan mereka Taito kembali mengayunkan pemukul baseball yang dia pegang untuk merasakan berat dari ayunan yang bisa di lakukan oleh tongkat tersebut,.

"...Kau.. kau.. Kau sebenarnya apa?"

Sagara yang terkejut keempat temanya yang bahkan mampu mengalahkan sepuluh orang brandalan bisa kalah semudah itu, untuk pertama kalinya menunjukan ekspresi takut di wajahnya.

"Aku?.. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang sudah menghabiskan waktunya selama 2 tahun dalam dunia itu.."


"Dunia itu?.."

"Sword Art Online"

"Kau.."

Kali ini Sagara menunjukan wajah terkejutnya, ini pertama kalinya dia bertemu dengan salah satu orang yang selamat dari game kematian Sword Art online, ini pertama kalinya dia melihat seperti apa mereka yang sudah kembali dari dunia yang memaksa penghuninya untuk terus bertarung..

"Seperti yang kau dengar.. aku adalah salah satu dari mereka yang orang-orang sebut sebagai orang yang menghabiskan dua tahun untuk saling bunuh..."

"Saling bunuh?"

"Well, tidak semua dari itu salah.. terkadang kami juga membunuh player lain...Jadi jika kau tidak ingin terlibat denganku.. sebaiknya pergi dan jangan muncul di hadapanku"

Seolah bukan apa-apa Taito mengatakanya dengan enteng.. menatap pada Sagara Taito menunjukan tatapan yang tidak pernah dia gunakan setelah keluar dari dunia itu, tatapan yang hanya bisa di katakan sebagai tatapan seorang pembunuh pada Sagara..

"Mo..monster..."

 Sagara hanya mengatakan hal itu sebelum dia berlari keluar bersama gerombolanya, setelah peristiwa Death Gun.. pembunuh yang menggunakan VRMMO Gun Gale Online sebagai kedok untuk memuaskan kesenangnya dalam membunuh tentu saja survivor SAO semakin di diskriminasi, karena Death gun sendiri adalah salah satu dari survivor SAO.

Setelah Sagara pergi , Taito juga memutuskan untuk segera pergi dari kelas itu, karena suasana di sana mulai menjadi semakin menyebalkan..beberapa siswa perempuan mulai saling berbisik mengatakan "ternyata benar, sudah kuduga," dan sebagainya.


"Asal kalian tahu.. Yang ada di dunia itu bukan hanya kebencian dan penderitaan.. di sana juga ada beberapa hal berharga yang tidak bisa di lupakan.."

mengatakan itu pelan Taito keluar dari kelas.

 Part 3

Pukul 7.30 malam kediaman Kotonoha meski di sebut kediaman sebenarnya ini adalah sebuah rumah kontrakan sederhana , Dari sebuah mobil yang berhenti didepan rumah, seseorang muncul, seorang wanita muda berusia sekitar 20 tahun, memiliki rambut hitam panjang seperti malam, wajah cantiknya memberikan kesan manis yang dia miliki, tentu saja . karena dia adalah seorang model amatir yang sedang naik daun akhir-akhir ini, namanya adalah Kotonoha Reina.

"Sa..sa.. Reina-chan.. istirahatlah dengan baik, ingat besok kita mungkin akan sibuk.."

dari dalam mobil seorang wanita mengatakan itu dengan nada ceria, itu adalah manager Reina, Toyotome Mami, wanita cantik yang terlihat berada pada awal 30 an dengan rambut coklat castanyenya...

"Eh?,, y, ya.. terima kasih atas tumpanganya..."

menanggapi managernya Reina menundukan kepalanya untuk berterima kasih. Setelah mereka berpisah Reina kemudian memasuki kediaman Kotonoha sambil menghela nafas lelah, dan saat dia membuka pintu.

"Okaeri nee-chan(selamat datang kakak)

Seorang anak laki-laki menyambutnya, usia anak laki-laki tersebut sedikit lebih muda dari pada Reina, Dia adalah adik kesayangan Reina, Kotonoha Taito, Taito adalah seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dengan wajah manis yang tidak jauh beda dengan kakak perempuanya, dia muncul dari koridor untuk menyambut kakaknya yang baru saja pulang dari pekerjaanya sebagai model. melihat penampilan adiknya yang muncul dengan menggunakan celemek wajah Reina justru menjadi merah..[Ta,Taito.. ma,manis sekali]

"Ta,Tadaima Taito"

"Nee-chan..kau memikirkan hal aneh tentang diriku?"

Melihat ekspresi kakaknya Taito menjadi curiga dan menanyakan itu, Dan Reina yang mendengarnya menjawabya dengan panik.[gawat dia menyadarinya]

"Hah.. mencurigakan, ah aku sudah menghangatkan air di kamar mandi, nee-chan bisa mandi sekarang, aku akan menyiapkan makan malam"

"Aaa.. Taito.."

"Un?"

"Te, terima kasih.."

"Nee-chan tidak perlu berterima kasih.. Nee-chan sudah berbuat banyak untuku, jadi hanya ini yang bisa aku lakukan...ah, hari ini kita makan sukiyaki, tidak masalahkan?"

"fumu.."

Sambil tersenyum Reina mengangguk pada pertanyaan adik tersayangnya, benar-benar adik yang hebat, itulah yang dipikirkan Reina tentang Taito, Taito memiliki wajah yang manis, dan dia hebat dalam mengurus rumah dari mencuci sampai memasak,terkadang Reina berpikir jika justru Taito yang cocok menjadi kakak, tapi dia diam saja karena dia tidak ingin mengganggu Taito.

Andai saja Taito bukan adiknya mungkin Reina sudah menyatakan perasaanya pada Taito, memikirkan hal itu dan muka Reina kembali memerahm [Apa yang aku pikirkan!!!]

Reina berjalan menuju kamar mandi setelah meletakan barang-barangnya di ruang tamu, dimana dengan sigap taito mengambilnya dan meletakanya di tempat yang benar tanpa memprotes, terkadang Reina malu terhadap sifatnya sendiri karena dia tidak bisa memberikan contoh yang baik pada Taito,  kemudian saat Taito berjalan di depannya Reina menyadari sesuatu,,

"Taito.. pipimu?!!"

"Aa?..i,ini,,"

Menyadari Reina yang memandangnya Taito menyembunyikan pipinya dengan telapak tanganya, tapi itu sudah terklambat, lebam karena pukulan yang Sagara berikan masih membengkak di pipi Taito..

"Taito, jangan bilang itu karena jatuh , Nee-chan tidak akan percaya dengan alasan seperti itu"

Reina menatap tajam pada Taito, dan itu membuat Taito tidak bisa berkata-kata.

"Taito.. apa mereka melakukan sesuatu padamu?. apa mungkin sebaiknya kamu pindah sekolah?"

Reina terlihat khawatir tapi Taito hanya tersenyum menanggapinya, Ya karena Reina tahu kalau taito selalu mendapat perlakukan yang tidak baik dari teman-temanya, mungkin akan lebih baik jika taito bersekolah di tempat yang di khususkan untuk para survivor SAO

"Nee-chan..untuk yang satu ini aku , aku memiliki kebanggaan pada luka ini.."

"eh?"

"Ah nee-chan.. aku tidak pernah punya saat yang tepat untuk mengatakan ini jadi akan kukatakan sekarang.."

"Taito?.."

Taito memasang pandangan tegas pada Reina, ini pertama kalinya Reina melihat Taito bersikap seperti ini sebelumnya..

"Setelah aku kembali dari dunia itu, aku sangat senang karena keluargaku mengkhawatirkanku, aku benar benarr senang melihat kalian menangis bahagia karena aku kembali, tapi di saat yang sama aku juga menyadari hal yang lain, ayah dan ibu.. mereka terus melihatku dengan tatapan takut.."

Mendengar itu Reina mengingat sesuatu, dia pernah mendengar pembicaraan ayah ibu mereka ketika dia pergi ke toilet di malam hari, pembicaraan tentang ketakutan mereka terhadap Taito yang sudah menghabiskan waktunya untuk saling bunuh selama 2 tahun dia terperangkap di dunia itu, ketakutan mereka jika Taito mengalami gangguan mental dari peristiwa yang sudah dia alami.

"Tapi Nee-chan, aku tidak pernah melihat pandangan itu di matamu, sejak dulu nee-chan selalu baik padaku, sejak aku masih sangat kecil.."

Benar, bagi Reina Taito adalah adik yang selalu dia sayangi, bahkan sebelum Taito lahir, Reina selalu membacakan dongeng untuk Taito yang masih dalam kandungan..bagi Reina taito adalah adik yang sangat berharga baginya.

"Karena itu Nee-chan, terima kasih atas semuanya, aku sangat bersyukur mempunyai Reina nee di sampingku"

mengatakan itu muka taito memerah karena menahan malu, Muka Reina juga memerah mendengar apa yang taito katakan, seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari otaknya Reina dengan cepat memeluk taito erat..

"HEE!!. Reina Nee!!"

"Taito, Taito, taito..."

"Eh?,,Nee-chan?"

"Taito, Terima kasih...terima kasih karena sudah lahir kedunia ini, terima kasih karena sudah lahir sebagai adikku.."

Mendengar itu Taito tidak bisa berkata apa-apa, bagi Taito harusnya dialah yang berterima kasih pada Reina, berterima kasih karena Reina sudah menjadi kakak yang hebat untuk taito.

"Nee Taito..Nee-chan punya permintaan..boleh?"

"umm?.. apa itu.."

Masih memeluk Taito Reina mengajukan sebuah permintaan..

"Untuk malam ini... temani nee-chan mandi dan tidur Ok?"

"Aku menolak!!"

Reaksi: 

4 Responses so far.

  1. Hy author.. sorry selama ini hanya jadi silent reader karena hanya ol lewat hp sih..
    tapi saya kali ini saya komentar aja deh habisnya ini keren banget sumpah..
    penasaran banget sama kelanjutannya, apa dia Taito akan ketemu Kirito atau Asuna? tidak tau, mari serahkan semua pada Author bikin kami terkejut :D

  2. iya kk saya terima kasih akan coba selesaikan cpt 2 secepatnya, maaf kalo mungkin agak lama, saya juga harus bagi waktu antara kerja, istirahat dan bikin fction, tp beneran mungkin bakalan agak lama buat si Taito masuk dalam game, soalnya saya lagi bikin patern gamenya dulu..sekali lagi makasih atas pujianya

  3. tolong jangan kasih bocoran :D soalnya kalau yang keren kalau dikasih bocoran jadi kurang kerennya..
    saya pengen terkejut dengan yang author buat.. pokoknya saya nantikan aja deh karyanya hahah

  4. Good job kak theo or rouge

Posting Komentar

    About Me

    Foto Saya
    Rouge and Theo
    its our team,Rouge and Theo Its our dream to make Fiction Hope you enjoy
    Lihat profil lengkapku

    Followers